Kamis, 22 Januari 2009

TUGAS UAS B.INGGRIS

Kreativitas yang serba salah

Sesungguhnya kreativitas yang “berbahaya”, “pura-pura”, atau “palsu” selalu mengintai di belakang kita. Enron telah menunjukkan dirinya sebagai salah satu perusahaan paling inovatif di dunia. Dan pasti, bahwa rencana Enron pada 1990-an – untuk menghadapi masa depan industri gas, menjalankan bisnis perdagangan melalui internet, dan mengatur privatisasi daya di banyak negara berkembang – menggambarkan jalan-jalan yang belum terpetakan di industri energi. Masalahnya, seperti kita ketahui, banyak yang disebut sebagai kreativitas padahal sesungguhnya kreativitas palsu – yang didasarkan pada estimasi yang salah, pada harapan daripada fakta, dan kriminalitas kuno yang buruk.

Bidang ilmu pengetahuan juga tidak terbebas dari contoh kreativitas yang salah atau contoh yang salah dari kreativitas. Sebagai contoh, pada bidang ilmu fisika. Pada abad VII dan VIII, pengetahuan konvensional menentukan bahwa suatu benda bisa terbakar karena mengandung unsur yang disebut “plogiston”, unsur yang tak berasa dan tak berwarna yang muncul selama proses pembakaran sehingga unsur itu mengalami “deplogistisasi”. Tetapi ternyata plogiston merupakan penemuan para ahli kimia yang mencoba mencatat proses yang belum mereka pahami. Terima kasih atas penelitian Antoine Lavoisier, ilmuwan yang telah memahami bahwa pemnbakaran terjadi ketika benda (seperti bahan bakar) bercampur dengan oksigen dan mencapai suhu tertentu.

Sebuah upaya yang sama juga terjadi pada 100 tahun yang lalu. Sepanjang abad ke-19, para ahli fisika menyodorkan fakta tentang satu media yang disebut “ether”, melalui berbagai macam gelombang cahaya dan panas yang diperkirakan melaluinya. Pembuktian bahwa ether – seperti halnya plogiston – itu tidak ada, diserahkan pada percobaan Albert Michelson dan Edward Morley, serta ketajaman teoritis Albert Einstein. Semua model dari alam semesta tersirat secara berlebih-lebihan.

Bukan hanya para pendahulu kita yang bisa berbuat keliru. Salah satu kalim terkemuka pada dekade-dekade saat ini adalah penemuan fusi dingin yang sangat dipuji-puji. Pada 23 maret 1989, Stanley Pons dan Martin Fleischmann, dua fisikawan terkenal di Universitas Utah, mengumumkan bahwa mereka telah menemukan puting susu yang luar biasa. Pada suhu kamar, mereka mengkompres atom berat hidrogen di dalam sel-sel fusi dingin: sel-sel yang terdiri dari dua elektrode logam, satu palladium dan satu platinum, yang dicelupkan ke dalam air keras yang dibubuhi garam lithium dan dihubungkan dengan arus elektrode sedang. Proses fusi diharapkan menghasilkan energi yang banyak., yang sebelumnya hanya diperoleh melalui proses reaksi nuklir yang memerlukan suhu tinggi. Menurut ulasan pers pada saat itu, kedua ilmuwan berhasil menciptakan reaksi fusi nuklir yang bertahan pada suhu kamar dalam laboratorium di Universitas utah. Terobosan ini memeberi harapan lahirnya sumber energi yang bersih dan nyaris tak akan habis.

Berita yang segera disiarkan oleh berbagai media ke seluruh dunia ini menimbulkan sensasi. The Wall Street Journal melaporkan bahwa para ilmuwan yang bekerja di Universitas Utah membuat sebuah penegasan yang belum pernah ada sebelumnya untuk mencapai reaksi fusi hidrogen yang terus-menerus, sehingga memanfaatkan kekuatan fusi bom hidrogen. Kedua ilmuwa menyatakan bahwa tidak diperlukan peralatan tambahan lebih dari yang mungkin sudah digunakan di tingkat pertama perkuliahan kimia. Mereka menjalankan reaksi fusi dalam tabung uji selama lebih dari 100 jam.10 Hal tersebut tampak seolah-olah energi utama yang tak terbatas, murah, aman, dan bersih bisa diperoleh melalui proses elektrokimia yang sederhana. Jika klaim tersebut benar, maka kebuutuhan bahan bakar fosil serta pencarian sumber-sumber energi dari matahari maupun laut yang belum dimanfaatkan, menjadi tidak penting lagi. Akhirnya, terdapat sebuah surga bagi para konsumen.

Apa yang terjadi pada bulan-bulan berikutnya mengandung pelajaran. Khususnya bagi para mahasiswa yang berminat pada proses kreatif. Banyak dana pemerintah dan swasta yang disalurkan untuk membiayai riset ini, baik di AS maupun negara lainnya. Pihak-pihak yang kurang ahli mengklaim bahwa mereka mampu melakukan hal yang sama. Kelompok ini, mewakili contoh ynag tetap berlaku hingga saat ini, bisa dianggap sebagai “para pengikut sejati”. Padahal, sebagian kelompok masyarakat ilmiah yang lebih besar pernah menyimpulkan bahwa klaim-klaim tersebut adalah kesalahan yang sederhana. Sebagian kecil ahli yang menolak secara mentah-mentah/a priori mengindikasikan bahwa penemuan-penemuan yang dinyatakan tanpa bukti tersebut bertentangan dengan pemahaman kita yang kuat mengenai cara suatu zat bekerja. Beberapa experimentalis terkemuka lainnya gagal mencoba untuk meniru hasil-hasilnya dan menjadi skeptis terhadap klaim-klaim tersebut secara empiris.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar